Sebenarnya pada postingan kali ini saya ingin
memberi judul NhUegHeriEh DhUiAtUaSt uAwUaNd, berhubung sekarang lagi musim angin yang
menyebabkan awan sulit untuk berkumpul dan setelah saya renungkan ternyata kesannya terlalu alay maka saya putuskan Bukit 2900 mdpl saja. *ora
ono kukuse jo*
Oke guys, pagi itu cuaca amat dingin, si
tarzan yang biasa berdandan vulgar alias pake rok mini alakadarnya, untuk kali
ini tarzan terpaksa merubah penampilan dengan menutup semua aurot kecuali muka
dan telapak tangan. *style cowok sholehah*
Demi menepati janji dalam mimpi untuk melihat
matahari terbit dari atas bukit, saya rela berangkat pagi buta. Setelah sholat
subuh saya dan sodara saya yang haus banget akan petualangan meluncur dengan
bekal 2 buah lepet dan 12 batang 76 filter. Meskipun ini merupakan pertama
kalinya kami kesana, sama sekali tidak mengurangi kadar tekat kami untuk
meluncur. Karena sebelumnya kami pernah naik ke ranupani dua tahun yang lalu. Dengan
berbekal tekat itulah kami menerjang jalan yang cukup ekstreem. Jalan yang kita
lalui semakin parah, jadi kita memutuskan untuk mengurangi kecepatan. Berjalan
pelan-pelan sampai pada akhirnya matahari sudah mulai terbit sebelum kita
sampai dipuncak.
“Ayoo fan wes padang iko lho!” teriak bang
samsul
“aduh iyo bang, ayo ayo!” jawab ku
Semakin keatas ternyata jalan semakin parah
dan matahari semakin tinggi..
“hop hop, foto sik! Selak entek sunrise-se!”
ajak ku
“mosok ndek kene lee?” tanya bang samsul
heran
“kate ndek ndi maneh? Selak padang!” jawabku
memaksa
Akhirnya kami berdua berhenti untuk mengambil
foto..
Setelah mengambil gambar, camera tiba-tiba
mati..
“Lho lho mas, camera ne nurun iki durung di
ces a?” *ups, ketauan bukan camera sendiri*
“Lho opo o fan?” tanya bang samsul
“Batrey low bro!”
“wadaaa wes.. ndak mbok delok disek mambengi”
keluhnya
Ternyata camera nya nurun yang saya
bawa belum di ces, akhirnya kami berdua terpaksa melanjutkan perjalanan dan
mengubur hasrat narsis didepan camera dalam-dalam.
Kami sudah sampai di pemukiman yaitu desa
Argosari, kami berhenti sejenak untuk mengurangi angin ban motor, agar ban
motor kami bisa menyesuaikan dengan medan yang akan kami lewati di tanah yang
penuh lubang. Udara semakin dingin, saya mencari masker yang saya siapkan
semalam, saya membuka tas dan mencoba meraba masker, tanpa sengaja saya
menyentuh hape.
Lho? Iki kan hapeku? Kok ono ndek tas ku?
*pertanyaan yang cukup aneh* tanya saya dalam hati.
Ternyata hape yang saya masukkan dikampus
kemarin, belum saya keluarkan dari tas, spontan saya bersorak.
“Bang bang nemu hape bang!”
“Lho iku kan hapemu?” tanya bang samsul
“sip wes, lutung kenek gae pose ndek ndukur
le!” tambahnya.
Meskipun hape saya cameranya tidak begitu
bagus setidaknya bisa membongkar kembali hasrat narsis didepan camera yang
sempat kami kubur dalam-dalam tadi.
Njajjal sik..
Setelah mengurangi angin ban motor, saya
memakai masker dan kami melanjutkan perjalanan dengan hati gembira karena punya
harapan narsis di atas bukit.
Pemukiman masih sepi, hanya sebagian orang
yang kelihatan batang hidungnya. Tempat parkir juga masih belum ada yang
menjaga. Untuk menghemat waktu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan
dengan mengendarai motor ke atas bukit.
Diatas pemukiman jalan murni tanah, tidak ada
batu yang terpasang sedikitpun, kami lebih tertantang mengendarai motor dari
pada jalan kaki. Dengan posisi berdiri *style pengendara KLX* akhirnya kami
berhasil naik sampai ke atas bukit dengan selamat.
Diatas bukit angin bertiup cukup kencang,
membuat kadar udara dingin semakin meningkat. Sepertinya kali ini kami belum
beruntung, sunrise sudah habis, camera low bat dan lebih sialnya lagi awan bubar
di usir angin. Yang awalnya negeri diatas awan kali ini berubah menjadi negeri
dibawah awan. -_______-
Setelah puas diatas, akhirnya kami turun
kewarung dan ngobrol dengan salah satu tukang ojek yang duduk di kursi bambu.
Lupa saya siapa namanya *sipapun namanya minumnya teh botol sosro* dandananya
seperti Superman dia pake jubah tapi tidak bisa terbang. Hehe
Si mas superman itu menjelaskan kalau
akhir-akhir ini angin cukup kencang, jadi awan tidak bisa berkumpul
mengelilingi bukit seperti biasanya. Dia juga bercerita bahwa rumahnya pernah
tersapu oleh angin, pada waktu itu rumahnya masih terbuat dari kayu jadi
memudahkan angin untuk menghancurkannya. *kejam banget tuh angin*
“wuh mas, diumbulno asi pas iko.. mepet pager
sampek aku” keluhnya
Sambil menahan tawa saya bertanya dalam hati
“sing ngumbulno samean angin opo jubah superman e samean? Samean kan berjubah?”
Untungnya si mas superman manusia biasa,
tidak bisa mendengar suara hati saya. Jadi saya bebas menertawakannya dalam
hati. *Ups?*
Si mas superman melanjutkan ceritanya,
setelah kejadian itu dia terpaksa ngutang kepada salah satu pemilik toko
bangunan untuk mendirikan kembali rumah yang telah lenyap dimakan angin. *rakus banget tuh angin*
Saya terharu mendengar cerita duka yang
disampaikan oleh si mas superman, saya mencoba menghiburnya.
“cakne mas, nek ndak ngunu samean ndak kiro
mikiri umah. wes wayae samean mbangun berati?”
Si mas superman tersenyum sambil berkata “iyo
mas, kabeh iku wes diatur nang sing kuoso”
Spontan saya mengacungkan jempol sambil
berkata “Sip!”
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya kami
berpamitan kepada si mas superman. Kami pun berjabat tangan dan meninggalkan
TKP.
Atas ketidak beruntungan tadi membuat saya
berjanji lagi dalam mimpi, untuk datang kesini dilain waktu dengan persiapan
yang cukup matang tentunya.
Berubah dulu ah..
RENJER MERAHHHHHHHHHHHHHH!!!! XD

Tidak ada komentar :
Posting Komentar