Jumat, 19 Juni 2015

Bukit 2900 mdpl


















Sebenarnya pada postingan kali ini saya ingin memberi judul NhUegHeriEh DhUiAtUaSt uAwUaNd, berhubung sekarang lagi musim angin yang menyebabkan awan sulit untuk berkumpul dan setelah saya renungkan ternyata kesannya terlalu alay maka saya putuskan Bukit 2900 mdpl saja. *ora ono kukuse jo*
 
Oke guys, pagi itu cuaca amat dingin, si tarzan yang biasa berdandan vulgar alias pake rok mini alakadarnya, untuk kali ini tarzan terpaksa merubah penampilan dengan menutup semua aurot kecuali muka dan telapak tangan. *style cowok sholehah*

Demi menepati janji dalam mimpi untuk melihat matahari terbit dari atas bukit, saya rela berangkat pagi buta. Setelah sholat subuh saya dan sodara saya yang haus banget akan petualangan meluncur dengan bekal 2 buah lepet dan 12 batang 76 filter. Meskipun ini merupakan pertama kalinya kami kesana, sama sekali tidak mengurangi kadar tekat kami untuk meluncur. Karena sebelumnya kami pernah naik ke ranupani dua tahun yang lalu. Dengan berbekal tekat itulah kami menerjang jalan yang cukup ekstreem. Jalan yang kita lalui semakin parah, jadi kita memutuskan untuk mengurangi kecepatan. Berjalan pelan-pelan sampai pada akhirnya matahari sudah mulai terbit sebelum kita sampai dipuncak.

“Ayoo fan wes padang iko lho!” teriak bang samsul
“aduh iyo bang, ayo ayo!” jawab ku
Semakin keatas ternyata jalan semakin parah dan matahari semakin tinggi..
“hop hop, foto sik! Selak entek sunrise-se!” ajak ku
“mosok ndek kene lee?” tanya bang samsul heran
“kate ndek ndi maneh? Selak padang!” jawabku memaksa
Akhirnya kami berdua berhenti untuk mengambil foto..

 
Setelah mengambil gambar, camera tiba-tiba mati..
“Lho lho mas, camera ne nurun iki durung di ces a?” *ups, ketauan bukan camera sendiri*
“Lho opo o fan?” tanya bang samsul
“Batrey low bro!”
“wadaaa wes.. ndak mbok delok disek mambengi” keluhnya

Ternyata camera nya nurun yang saya bawa belum di ces, akhirnya kami berdua terpaksa melanjutkan perjalanan dan mengubur hasrat narsis didepan camera dalam-dalam.
Kami sudah sampai di pemukiman yaitu desa Argosari, kami berhenti sejenak untuk mengurangi angin ban motor, agar ban motor kami bisa menyesuaikan dengan medan yang akan kami lewati di tanah yang penuh lubang. Udara semakin dingin, saya mencari masker yang saya siapkan semalam, saya membuka tas dan mencoba meraba masker, tanpa sengaja saya menyentuh hape.
Lho? Iki kan hapeku? Kok ono ndek tas ku? *pertanyaan yang cukup aneh* tanya saya dalam hati.
Ternyata hape yang saya masukkan dikampus kemarin, belum saya keluarkan dari tas, spontan saya bersorak.
“Bang bang nemu hape bang!”
“Lho iku kan hapemu?” tanya bang samsul
“sip wes, lutung kenek gae pose ndek ndukur le!” tambahnya.
Meskipun hape saya cameranya tidak begitu bagus setidaknya bisa membongkar kembali hasrat narsis didepan camera yang sempat kami kubur dalam-dalam tadi.
Njajjal sik..

 
Setelah mengurangi angin ban motor, saya memakai masker dan kami melanjutkan perjalanan dengan hati gembira karena punya harapan narsis di atas bukit.
Pemukiman masih sepi, hanya sebagian orang yang kelihatan batang hidungnya. Tempat parkir juga masih belum ada yang menjaga. Untuk menghemat waktu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan mengendarai motor ke atas bukit.
Diatas pemukiman jalan murni tanah, tidak ada batu yang terpasang sedikitpun, kami lebih tertantang mengendarai motor dari pada jalan kaki. Dengan posisi berdiri *style pengendara KLX* akhirnya kami berhasil naik sampai ke atas bukit dengan selamat.
Diatas bukit angin bertiup cukup kencang, membuat kadar udara dingin semakin meningkat. Sepertinya kali ini kami belum beruntung, sunrise sudah habis, camera low bat dan lebih sialnya lagi awan bubar di usir angin. Yang awalnya negeri diatas awan kali ini berubah menjadi negeri dibawah awan.  -_______-

Setelah puas diatas, akhirnya kami turun kewarung dan ngobrol dengan salah satu tukang ojek yang duduk di kursi bambu. Lupa saya siapa namanya *sipapun namanya minumnya teh botol sosro* dandananya seperti Superman dia pake jubah tapi tidak bisa terbang. Hehe

 

Si mas superman itu menjelaskan kalau akhir-akhir ini angin cukup kencang, jadi awan tidak bisa berkumpul mengelilingi bukit seperti biasanya. Dia juga bercerita bahwa rumahnya pernah tersapu oleh angin, pada waktu itu rumahnya masih terbuat dari kayu jadi memudahkan angin untuk menghancurkannya. *kejam banget tuh angin*

“wuh mas, diumbulno asi pas iko.. mepet pager sampek aku” keluhnya
Sambil menahan tawa saya bertanya dalam hati “sing ngumbulno samean angin opo jubah superman e samean? Samean kan berjubah?”
Untungnya si mas superman manusia biasa, tidak bisa mendengar suara hati saya. Jadi saya bebas menertawakannya dalam hati. *Ups?*
Si mas superman melanjutkan ceritanya, setelah kejadian itu dia terpaksa ngutang kepada salah satu pemilik toko bangunan untuk mendirikan kembali rumah yang telah lenyap dimakan angin. *rakus banget tuh angin*
Saya terharu mendengar cerita duka yang disampaikan oleh si mas superman, saya mencoba menghiburnya.
“cakne mas, nek ndak ngunu samean ndak kiro mikiri umah. wes wayae samean mbangun berati?”

Si mas superman tersenyum sambil berkata “iyo mas, kabeh iku wes diatur nang sing kuoso”
Spontan saya mengacungkan jempol sambil berkata “Sip!”
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya kami berpamitan kepada si mas superman. Kami pun berjabat tangan dan meninggalkan TKP.
Atas ketidak beruntungan tadi membuat saya berjanji lagi dalam mimpi, untuk datang kesini dilain waktu dengan persiapan yang cukup matang tentunya.
Berubah dulu ah..
RENJER MERAHHHHHHHHHHHHHH!!!! XD









Tidak ada komentar :

Posting Komentar