Dulu
dipesantren aku punya kerbau temen namanya ilham, sekarang juga masih
temen cuman jarang ketemu aja semenjak
kita keluar dari pesantren, tapi bukan berarti aku kangen lho ya!
Dia
adalah salah satu santri paling bongsor peringkat 2 setelah hamid dalam
kejuaraan bongsor tingkat pesantren. Suaranya kecil ga matching dengan badannya
yang bongsor, kalo ketawa bola matanya jatuh menggelinding dilantai ga
keliatan alias sipit. Dibalik kebongsoran, kesipitan, kehitam pekatan *moga aja
dia ga baca* menyimpan otak yang cukup cerdas. *oh baca aja deh, gpp*
Itu terbukti ketika dia masuk fullday alias kelas unggulan di Mts Negeri
Lumajang. Meskipun banyak temen-temen yang ga percaya, inilah faktanya. ilham
yang muka nya ga meyakinkan itu ternyata masuk kelas unggulan. *this strange but true*
Suatu hari aku
melihat ilham sedang duduk sendirian didepan kamarnya. Karena aku orang baik,
ramah dan tidak sombong akhirnya aku menemaninya.
“nyandi arek-arek ham?” tanyaku
“mboh ta,
ngenet paleng” jawabnya sambil memasang muka kecut
“salae wes
elek, mrengut, wuh perfect wes!” seruku dalam hati
Ilham tetap
saja bermuka kecut, entah apa penyebabnya aku tidak berani bertanya. *takut
digigit*
Akhirnya aku
mencari cara untuk merubah muka kecutnya menjadi manis, “ah aku punya ide!”
“ham?” aku
memanggilnya *udah tau!*
“opo le?”
Jawabnya
“oh ndak sido
wes” aku berusaha membuatnya penasaran
Sepertinya
usahaku berhasil, dia bertanya. “opo se le?”
Aku memcoba berbelit..
“ndak wes, engko awamu kondo-kondo”
“layo opo sik?”
dia kembali bertanya
“janji lho ojok
kondo-kondo” ancamku
“endak endak”
jawab ilham berusaha meyakinkanku
“anu ham, iki
rahasia. Ojok sampek bocor, bisa membahayakan orang-orang yang mengendarai soale
disekitarku soale”
Ilham mulai
serius, ia mengangukkan kepala sambil memasang muka PD ia bertanya. “mosok koen
ndak percoyo nang aku le?”
“percoyo, tapi
aku wedi koen keceplosan. bisa membahayakan keselamatan orang-orang disekitarku
ham”
“ndak wes,
endak. Age opo?”
“gah koen
combe!” jawabku sambil beranjak meninggalkannya
Dalam hati aku
menyemangatinya “ayo kejar.. kejar!”
Ilham mulai
mengikuti ku, yes rencanaku berhasil.
Ilham
mengulangi pertanyaannya tadi dengan kalimat yang sedikit berbeda.
“kate omong opo
se le?” tanya dia halus
“koen lhe ndak
kenek dipercoyo ham!” jawabku ketus
Dia meraih
tanganku sambil berkata, “sumpah, aku ndak kondo kondo wes!”
Melihat muka
jeleknya semakin jelek, aku yang baik hati ini akhirnya menjawab pertanyaannya.
Aku bicara
dengan volume yang sangat kecil, agar tidak ada yang mendengar kecuali ilham.
“aku spaidermen
ham..”
Ilham tidak
mendengarnya, “opo le opo le?”
aku sedikit
mengeraskan suara agar ilham mendengar suaraku.
Sambil
melangkah aku mengulangi perkataanku tadi..
“aku spaidermen
ham, ojok kondo-kondo garai iso
mengancam keselamatan orang-orang disekitarku nek musuh-musuhku ngerti.
Aku ndak kepingin keluargaku diculik dijadikan alat agar aku tidak bisa melawan”
Spontan ilham
mengejarku, “jangkrek koen le! Jaraku te omong opo!”
Akhirnya aku
dan ilham kejar kejaran seperti narapidana yang dikejar anjing pelacak
tom & jerry. cieee

Tidak ada komentar :
Posting Komentar