Sabtu, 04 Juli 2015

Aku adalah Spiderman













Dulu dipesantren aku punya kerbau temen namanya ilham, sekarang juga masih temen cuman jarang ketemu aja semenjak  kita keluar dari pesantren, tapi bukan berarti aku kangen lho ya!

Dia adalah salah satu santri paling bongsor peringkat 2 setelah hamid dalam kejuaraan bongsor tingkat pesantren. Suaranya kecil ga matching dengan badannya yang bongsor, kalo ketawa bola matanya jatuh menggelinding dilantai ga keliatan alias sipit. Dibalik kebongsoran, kesipitan, kehitam pekatan *moga aja dia ga baca* menyimpan otak yang cukup cerdas. *oh baca aja deh, gpp*
Itu terbukti ketika dia masuk fullday alias kelas unggulan di Mts Negeri Lumajang. Meskipun banyak temen-temen yang ga percaya, inilah faktanya. ilham yang muka nya ga meyakinkan itu ternyata masuk kelas unggulan. *this strange but true*

Suatu hari aku melihat ilham sedang duduk sendirian didepan kamarnya. Karena aku orang baik, ramah dan tidak sombong akhirnya aku menemaninya.
“nyandi arek-arek ham?” tanyaku

“mboh ta, ngenet paleng” jawabnya sambil memasang muka kecut
“salae wes elek, mrengut, wuh perfect wes!” seruku dalam hati
Ilham tetap saja bermuka kecut, entah apa penyebabnya aku tidak berani bertanya. *takut digigit*

Akhirnya aku mencari cara untuk merubah muka kecutnya menjadi manis, “ah aku punya ide!”
“ham?” aku memanggilnya *udah tau!*
“opo le?” Jawabnya
“oh ndak sido wes”  aku berusaha  membuatnya penasaran
Sepertinya usahaku berhasil, dia bertanya. “opo se le?”
Aku memcoba berbelit.. “ndak wes, engko awamu kondo-kondo”
“layo opo sik?” dia kembali bertanya
“janji lho ojok kondo-kondo” ancamku
“endak endak” jawab ilham berusaha meyakinkanku
“anu ham, iki rahasia. Ojok sampek bocor, bisa membahayakan orang-orang yang mengendarai soale disekitarku soale”

Ilham mulai serius, ia mengangukkan kepala sambil memasang muka PD ia bertanya. “mosok koen ndak percoyo nang aku le?”
“percoyo, tapi aku wedi koen keceplosan. bisa membahayakan keselamatan orang-orang disekitarku ham”
“ndak wes, endak. Age opo?”
“gah koen combe!” jawabku sambil beranjak meninggalkannya
Dalam hati aku menyemangatinya “ayo kejar.. kejar!”
Ilham mulai mengikuti ku, yes rencanaku berhasil.
Ilham mengulangi pertanyaannya tadi dengan kalimat yang sedikit berbeda.
“kate omong opo se le?” tanya dia halus
“koen lhe ndak kenek dipercoyo ham!” jawabku ketus
Dia meraih tanganku sambil berkata, “sumpah, aku ndak kondo kondo wes!”

Melihat muka jeleknya semakin jelek, aku yang baik hati ini akhirnya menjawab pertanyaannya.
Aku bicara dengan volume yang sangat kecil, agar tidak ada yang mendengar kecuali ilham.
“aku spaidermen ham..”
Ilham tidak mendengarnya, “opo le opo le?”
aku sedikit mengeraskan suara agar ilham mendengar suaraku.
Sambil melangkah aku mengulangi perkataanku tadi..
“aku spaidermen ham, ojok kondo-kondo garai iso  mengancam keselamatan orang-orang disekitarku nek musuh-musuhku ngerti. Aku ndak kepingin keluargaku diculik dijadikan alat agar aku tidak bisa melawan”

Spontan ilham mengejarku, “jangkrek koen le! Jaraku te omong opo!”
Akhirnya aku dan ilham kejar kejaran seperti narapidana yang dikejar anjing pelacak tom & jerry. cieee

Tidak ada komentar :

Posting Komentar