Si si siapa dulu kakak nya?
Dia selalu memasang muka kecut setiap
kulontarkan pertanyaan itu. Mungkin dia menganggap pertanyaaku sebagai alat
yang kugunakan untuk merebut keberhasilannya dan mengubur semua usaha yang
telah ia lakukan. aku hanya tertawa renyah melihat reaksi mukanya yang makin
jelek ketika cemberut. Haha kress kress kreesssss
Pernah suatu hari dia mengikuti lomba adzan yang diadakan oleh KKN Universitas
Muhammadiyah Malang entah dalam rangka apa aku lupa, waktu itu tahun 2012 ia masih
SD dan aku baru masuk kuliah semester 1 disalah satu perguruan tinggi kab.
Lumajang.
“Assalamu’alaikum..”
“waalaikumsalam” jawabku ragu sambil bertanya
dalam hati, tumben banget adek ngucapin salam.
Melihat dia masuk rumah aku bertanya, “lho
koen a mat? Jaraku tukang amen”
*emang ada pengamen ngucapin salam?*
Sambil senyum-senyum seperti orang gila dapet
arisan dia berkata, “mas aku melu lomba adzan!”
Mendengar perkataan itu aku langsung shock
berat, spontan aku teriak..
“WHHHHHHAAAAAAAAAAT?!!! lomba adzan?!!”
tanyaku kaget
Dia menganguk sambil nyengir, “ya Allah
cobaan apalagi ini?” Tanyaku dalam hati
“istighfar mat, istighfaaaar!” aku mencoba
menyadarkannya
Tetapi dia tidak menghiraukan perkataanku, sambil cabut ia teriak sekenceng kencengnya..
“Allahu akhbar Allaaaaaaahu akbar!”
Aku mencoba melindungi telingaku dengan
menutupnya rapat rapat. Aku terdiam sejenak, memikirkan cara untuk menyelamatkan adek,
akhirnya ku susun beberapa cara untuk memadamkan antusiasmenya mengikuti lomba
adzan.
Cara 1
aku kasi tahu dia kalo suara dia jelek dan ga
layak adzan, apalagi ikut lomba adzan. Udah ga kebayang gimana respon para
juri, ketawa sambil guling-guling mungkin. -______-
cara 2
kuajak dia ke suatu tempat yang ia suka pas
dihari perlombaan adzan dilaksanakan, dan kukemposi ban motor untuk
mengelebuinya, biar bisa mengulur waktu sampai perlombaan selesai.
Cara 3
Kuajak dia begadang nonton film barbie
kesukaan nya. *ups, maaf ga sengaja* di H-1, biar pada waktu perlombaan
dilaksanakan dia teler dan ga jadi ikut.
Oke, misi siap dimulai..
terlebih dahulu aku ingin nyoba cara 1, mudah mudahan berhasil.
“plo saguplo!” panggilku, mencarinya.
“saguplo nyandi?”
“sik mangan arek e me mbok e” jawab ibuk
“oh yowes, engko nek mari waraen golek i aku
ya?”
“oke” jawab ibuk
Detik demi detik, menit demi menit, jam
demi jam kulalui menunggu kehadirannya.
“ndak e emboh peng piro arek iki se?” tanyaku
dalam hati
“mangan ae setaon!” seruku
Beberapa tahun menit kemudian ia
datang sambil bersendawa, EMBEKKKKKKKKKKKKKKKKKKK..
Spontan aku geleng-geleng sambil berkata “wuh
diluk nek mangan...”
Dia tersenyum sambil berkata.. “mas mariki
wuru ono adzan ya?”
Rasanya seperti tersambar petir mendengar
permintaannya, aku ga tau harus jawab apa.
Dia mengulangi perkataan yang belum kujawab
“mas mariki wuru ono adzan ya?”
“hah?” aku pura-pura tidak mendengar
perkataannya
“ya mas, yaaaaaaaaaaaaa?” mintanya memelas
Aku tidak tega melihat wajahnya seperti orang
ngemis yang belum makan satu tahun, padahal dia baru aja makan, kekenyangan
lagi.
Terpaksa aku yang baik hati, sabar dan tidak
sombong ini menganguk dan cepat cepat meninggalkan nya.
“yeeeeeeeeeeeeee!” sorak nya kegirangan
“ya Allah kenapa Kau berikan cobaan diluar
kemampuanku ya Allah?” tanyaku dalam hati
Aku memikirkan kembali cara yang telah
kususun untuk mengurungkan antusiasme adek mengikuti lomba adzan, kubaca
kembali
cara 1 ternyata kesannya terlalu jahat dan
bisa menyakiti lubuk hati adek yang paling dalam, coret!
Cara 2 terlalu beresiko, dampaknya dimarahi
abis abisan karena keluar rumah ga pulang pulang, coret lagi!
Cara 3 terlalu membahayakan kesehatan adek,
dampaknya ia sakit karena ga pernah begadang, ROBEK!!
Akhirnya aku mendapatkan hidayah dari Allah
swt, untuk menularkan suara yang merdu ini kepada adek.
“kapan lombane mat?” tanyaku ketika dia
kebetulan lewat
“mben” jawabnya singkat
“kurang rong taon dino berati?”
tanyaku memastikan
“iyo, mben”
“yowes, engko mulai latian” ajak ku penuh
semangat
“asyik!” jawabnya
Sore itu aku dan adek kemesjid, jama’ah
sholat ashar. Setelah sholat ashar berjama’ah kita memulai latian, kusuruh dia
megang microphone seolah-olah dia sedang lomba.
“age njajal adzano!” perintahku
Tampa basa-basi adek langsung nylongop..
“Allahu akhbar Allahu akhbar”
Aku menganguk, sip sip..
“Allaaaahu akhbar Allahu akhbar!”
Aku kembali menganguk, teges teges..
“Hayya alas sholaaaaaah”
Lho lho? *untuk kali ini kupegangi kepala
agar ga menganguk seperti tadi*
adek meneruskan latiannya.
“Hayya alassholaaah”
“hop hop!” aku berusaha menghentikan adzan
liarnya.
“tlanyaran, durung wayae mat!”
“apane mas?” tanyanya merasa benar
“asyhadu ala disek, wo!”
“oh yo lali” jawabnya nyengir
“lali opo nda apal?” dia nyengir lagi
mendengar pertanyaanku
Spontan aku garuk-garuk kepala “Blaen nek
mben ngene koen le”
Akhirnya aku menyuruhnya mengulangi dari awal
dan sedikit memberi contoh, sampai ia benar-benar hafal dan tidak lali lagi.
Demikian seterusnya kami lakukan dengan
semangat pantang menyerah sampai waktu perlombaan telah tiba. Sore itu aku
bergegas menuju masjid tempat perlombaan dilaksanakan, dengan bekal tekat adek
melangkah tanpa ragu memasuki masjid itu. “Semangat mat!” teriak ku. Aku menunggunya di luar, suaranya terdengar
jelas karena para peserta pada waktu itu menggunakan pengeras suara. “wuh enak-enak
suarane arek-arek” pekik ku dalam hati ketika mendengar suara merdu beberapa
peserta.
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya nama
adek dipanggil juga, Tukul Arwana Achmad Shodiq.. dengan penuh percaya
diri adek maju sambil cengar-cengir seperti orang gila dapet arisan. Mat mat,
Bissmillah disek mat! Sorak ku dari luar masjid.
Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha
ilallah hu Allahu akhbar..
“lho prasaku, aku ndaktek muruk i ngene?”
tanyaku heran
Wah keren, meskipun pelafalannya masih belum
benar setidaknya dia berani tampil beda dari peserta lain. Pasti dapet nilai
plus *ngarep*
Adek mengumandangkan adzan dengan suara
lantang persis seperti saat kita latihan kemarin, karena dengan suara lantang
suara falesnya tidak begitu nampak jelas. Alhamdulillah trik yang kita buat
ternyata berhasil mengelabuhi para juri *syukur jahat* adek pun tersenyum
karena juri ga jadi tertawa sambil guling-guling. Hihi
Perlombaan telah usai, salah satu panitia
memberitahukan bahwa besok malam semua peserta diwajibkan hadir jam 19:00
karena akan diumumkan pemenang lomba adzan, fashion show, tartil, dsb. Akhirnya
kita pulang dengan hati lega karena semua berjalan sesuai dengan apa yang telah
kita rencanakan sebelumnya.
Keesokan harinya setelah sholat maghrib, kami
bertiga aku, adek dan ibuk memenuhi permintaan panitia untuk melihat peserta
yang menang dalam beberapa perlombaan yang diadakan. Waktu itu sangat rame,
jalan penuh. Seperti diperkotaan, kembang api meledak-ledak.
CIUUUUUU.... DEMMMMMMMMM...
KRETEK KRETEK.. JEDORDOR!!
DESING... DESING... JEDUAAAAAAAAAAAAAAAR!
KENGEEEENG.. KENGENG!!
WIIIIIIIIIIIIIIIIIUUU..
WIIIIIIIIIIIUUUUUUUUUUUU.. WIIIYUUUU...
*ups, kirik e sopo dimot ambulance iku? *
Wu seruuuu... Sayangnya kita cuman bisa menyaksikan
sambil gigit jari tanpa ada cita-cita untuk membeli dan membakarnya sendiri. Aku
mencoba memandang ibuk dengan penuh harap, belum sempet mulut terbuka, eh udah
keluar duluan kata-kata mutiaranya “podo senenge masi ndak melu nyocok, podo
nguasno!” jare ibuk -___________________________-
Acara pun dibuka dengan membaca mantra
umul kitab 1 kali, seorang Master Ceremony membacakan susunan acara di mulai
dari penampilan berbagai kesenia anak-anak SD. Mulai dari fashion show,
tari-tarian, sampai tari beneran. Orang tua yang anaknya tampil pada waktu itu
saling mempromosikan anaknya masing-masing. Kalimat nya juga bervariasi..
“tole genduk mau macak ndek senduro diterno bapak ne”
“aku mau yo ndadak ngeterno nang pasar nggolek kudung, njaluk sing ono
kembangane jare”
“layo, atasane sandal ae lhe ndak podo karo kancane
yo sik rewel”
“untung topeng e cocok mau tak silihno nek
mbak ne” *reog kali?*
Mendengar promosi dari para pakar salesman
tidak terasa waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga. MC membacakan pemenang dari
berbagai perlomba an. Mulai dari lomba tartil, fashion show, adzan de es be. Sungguh
momen yang menegangkan, semua peserta deg-deg kan malam itu. Kecuali adek, yang
merengek minta rujak.
“engko sik tah mat!” seru ibuk
“buk ayoooo” paksanya
“iku lhe sik pengumuman, biasah iki!”
“yung asi.. cakne aku budal dewe!”
"budalo!"
Ya ampun, norak banget sih! Anak-anak lain
pada makan eskrim eh ini malah ngemis-ngemis minta rujak. Lebih sialnya lagi ga
dikasi sama ibuk. Heran banget aku sama saguplo ini, ga ada yang lain apa
diotaknya? Makanan mulu dipikirin. Ini pengumuman coy, PENGUMUMAN LOMBAMU!!!!
You see that?!! Setelah kami bertiga berdebat dibawah pentas, akhirnya sampailah
pada pengumuman juara lomba adzan.
“Juara 3 diraih oleh peserta nomer urut...........................”
kata MC membuat kami penasaran, kecuali adek yang masih mikirin rujak.
“Hafiz dari karang anyar!!!!!”
Spontan pendukung hafiz dari bertepuk tangan, “wuh teges.. teges..” pekik salah
satu penonton yang juga supporter hafiz.
Dengan langkah pasti hafiz naik ke pentas
untuk mengambil piala yang membuat para penonton penasaran dari tadi sore,
siapa yang akan mengusung piala-piala itu?
MC masih menahan Hafiz untuk tetap berada dipentas menunggu pemenang yang lain.
Pengumuman pun dilanjut!
“juara pertama diraih oleh peserta nomer
urut............................”
Aneh banget, pesertanya kan adek kok malah
aku sama ibuk sih yang tegang mendengar pengumuman MC yang sengaja
berbelit-belit biar para penonton tegang?
“diraih oleh.....................”
Aku berusaha menutup telinga berharap nama adek
yang disebut.
“Kristiantoooooooooooooooooooooooooooooooooooo!!!”
Rasanya seperti disamber petir! *emang
pernah?”
Aku sempet kaget dan bertanya-tanya dalam
hati..
“Lho kemarin kan persyaratan peserta harus
muslim, kenapa non muslim ikut? Juara satu lagi! wah ga memenuhi syarat!”
demoku dalam hati
PRAK PRAK PRAKKKKK.....
Tepuk tangan para penonton khususnya penduduk
Karanganyar lepas setelah beberapa menit
sempat hening untuk mendengarkan
pengumuman dari MC.
“lho kok podo jingkrak-jingkrak wong karangbaru
iki?” tanyaku heran
Setelah si Kristianto naik pentas aku
langsung terperangah, ternyata fisiknya
ga ada mirip-miripnya sama sekali dengan orang China. Ternyata Kristianto salah
satu penghuni karanganyar yang notabane nya Muslim semua. Habis namanya kristianto,
ya ku sangka agamanya nasrani ternyata islam juga. Nama yang menipu
-__________________________-
Beberapa menit setelah penonton khususnya
orang2 Karanganyar bersorak, MC kembali melanjutkan tugasnya.
“untuk yang terakhir..” kata si MC
“juara 2 lomba adzan diraih oleh peserta
nomer urut...”
“ACHMAD
SHODIQ dari Burno Krajan I”
Seketika itu penonton langsung diam, tidak
ada yang tepuk tangan, semuanya kaget melihat wajah kakak ahmad yang mirip
justin bieber. *lho?*
Amat langsung mringis, sepertinya dia sudah
melupakan rujak dan fokus kepada piala yang ada didepannya,
"berati piala iku nek ku yo?" tanya adek
melihat aku dan ibuk tidak menjawab pertanyaan anehnya, adek mencari jawaban sendiri dengan naik ke atas pentas.
MC dan orang-orang di pentas menyambut adek
dengan hangat..
“selamat ya!” kata MC sambil tersenyum
Adek merespon ucapan MC dengan senyum (yang
menurutku tidak) manis tanpa sepatah katapun.
“Alhamdulillah” seru ibuk bersyukur
“alhamdulillah opo buk?” tanyaku heran
“alhamdulillah amat ndak sido njaluk rujak
oleh piala”
Dengan penuh percaya diri aku bertanya “siapa
dulu kakaknya?”
“Alfaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnn”
jawab ibuk sambil mlerok kesana-kemari
Setelah adek turun dari pentas, akhirnya kami
bertiga merayakan kemenangan dengan berpesta rujak ditempat biasa, kemudian
pulang menggotong sambil sesekali mengumbul-ngumbulkan piala peringkat II. uhuy

Tidak ada komentar :
Posting Komentar